Aku tidak tau kapan dan di mana kita akan bertemu karena sampai detik ini Tuhan masih merahasiakannya. Aku juga selalu bertanya-tanya, seperti apakah pertemuan pertama kita nanti. Mungkin kita bertabrakan ketika aku sedang membawa setumpuk buku, layaknya yang terjadi dalam sinetron-sinetron picisan. Lalu kita saling jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya sampai mati. Atau bisa jadi, kita adalah sepasang sahabat yang lama terpisah, kemudian jatuh cinta satu sama lain ketika dipertemukan kembali. Bagaimanapun itu, semoga pertemuan pertama cukup berkesan hingga bisa diceritakan kepada anak cucu kita. Kelak, jika kau dan aku telah tiada, kenangan tentang kita akan hidup selamanya.
Ketika kau membaca surat ini mungkin kita tengah sibuk mempesiapkan segalanya untuk hari besar yang akan mengubah hidupmu dan ku selamanya. Aku yakin kau adalah sosok yang cukup sempurna di mataku. Walaupun tidak setampan Robert Pattinson atau se-unyu Cory Monteith, tapi aku percaya kaulah manusia terbaik yang Tuhan kirimkan untuk mendampingiku seumur hidup. Setidaknya, kau telah memenuhi empat syarat utama calon suami bagiku: seiman, mapan, setia, dan bertanggung jawab. Mudah-mudahan begitu. Kuharap juga, pernikahan kita terjadi tanpa ada unsur pemaksaan. Aku ingin kau dan aku memutuskan untuk bersama atas dasar cinta. Kau mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Kau cinta terakhirku, aku cinta terakhirmu. Begitu saja cukup. Aku tau cinta bukan segalanya. Namun aku pun tau, pernikahan tanpa cinta takkan membawa bahagia. Padahal kau dan aku sama-sama paham bahwa hidup tak lain bertujuan mencari kebahagiaan--dunia akhirat. Tentunya kau tak ingin salah satu dari kita, apalagi keduanya, menyesal seumur hidup karena merasa telah memilih orang yang tidak tepat, kan?
Sayangku..
Aku mungkin bukanlah wanita yang sempurna. Tapi ketahuilah, aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, ibu yang dicintai anak-anak kita. Menyiapkan sarapan, menemani malaikat-malaikat kecil kita belajar, menidurkan mereka setiap malam, dan tentunya melaksanakan tugasku sebagai istrimu. Lalu setiap pagi bersama-sama mengantar buah hati kita ke sekolahnya. Dan dengan seizinmu, Sayang, aku ingin tetap berkarir. Aku tak ingin sekedar menjadi ibu rumah tangga yang membersihkan rumah seharian, apalagi bergosip dengan tetangga. Tidak, Cinta. Karena untuk mendapatkan wanita seperti itu kau cukup mempekerjakan seorang pembantu, tak perlu menikahiku. Aku ingin menjadi istri yang punya nilai lebih di matamu, yang bisa kau banggakan di depan keluarga dan teman-temanmu. Sekalipun begitu, kau tak perlu khawatir. Aku takkan menomorduakanmu, apalagi sampai menelantarkan anak-anak kita. Entah bagaimana caraku membagi waktu nanti, yang jelas aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanmu. Kuharap kau bisa menghormati keputusanku ini.
Calon ayah dari anak2ku..
Aku sangat mengerti bahwa tak ada pernikahan yang baik-baik saja selamanya, meskipun sebenarnya itulah yang ku inginkan. Sesekali mungkin bahtera rumah tangga kita dihantam badai. Namun percayalah Sayang, kita pasti bisa melewatinya. Genggamlah tanganku dan kita akan menghadapinya bersama. Seberat apapun itu, jangan sedikitpun terlintas dalam benak kita untuk mengakhiri istana yang telah bertahun-tahun dibangun dengan susah payah. Ingatlah malaikat-malaikat kecil itu maish membutuhkan kita. Kau dan aku, utuh, bukan hanya salah satu. Sebab kita ibarat sepasang sayap yang takkan bisa terbang bila terpisah.
Sayang...
Klau suatu saat nanti kulitku tlah mengeriput, rambutku mulai memutih, dan aku tak lagi muda, kuharap cintamu padaku tak memudar. Menjadi tua itu pasti, Sayang. Kau dan aku akan mengalaminya. Yang ku mau hanyalah tangan kita tetap bergandengan ketika terlelap, kau tetap menciumku empat kali sehari seperti biasa: setiap pagi ketika aku bangun, setelah sarapan, sehabis mandi sore, dan sebelum tidur. Jangan ada yang berubah dari ritual kita, sekalipun raga tak lagi sama. Dan jika tiba saatnya Tuhan memanggil salah satu dari kita, aku berdoa semoga aku yang lebih dulu pergi. Bukan karena aku ingin meninggalkanmu, melainkan aku tak tau bagaimana hidup di dunia bila tak lagi ada dirimu. Aku pasti akan sangat kesepian tanpa kau di sisiku. Berhubung kau lebih tegar dari aku, maka biarlah kau yang tinggal lebih lama. Aku yakin kau pun tak ingin melihatku terpuruk menangisis kepergianmu setiap hari. Kelak, jika kau merindukanku, pergilah ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi berdua. Pantai di mana kau melamarku, taman yang menjadi saksi ikrar cinta kita, hotel tempat kau dan aku menghabiskan bulan madu, serta rumah yang berpuluhpuluh tahun kita tinggali bersama. Kenangan tentangku telah hidup di sana, Sayang. Selamanya. Takkan pernah mati, meski ragaku sudah.
Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membacanya. Mudah-mudahan Tuhan segera mempertemukan kita berdua.

0 komentar:
Post a Comment